Tantangan Melatih Kemandirian Kelas Bunda Sayang IIP Level 2 : Menggunakan Kamera (2)

20181005_230425_0001

Hari ini luar biasa, tiga kamera resmi menjadi tanggung jawabku. Mulai dari penyimpanan, pengisian daya, pengambilan foto sampai merekap foto untuk bahan laporan. Hal ini melatihku untuk belajar mandiri dan tanggung jawab atas amanah yang diberikan.

Aku mulai terbiasa untuk menggunakan kamera sebaik mungkin. Tidak lagi bertanya-tanya pada banyak orang hehe. Sengaja kusisihkan waktu untuk mempelajari keterampilan ini. Namun sayang ada saja hal yang terlewat namun ada hikmah didalamnya, yaitu saya lupa memasukan baterai kamera yang sudah di cas kedalam kamera padahal kamera itu sudah dibawa rekan saya. Hikmahnya adalah harus mengecek baterai dan memori sebelum diserahkan pada orang lain.

Sejujurnya keterampilanku untuk belajar mandiri pekan ini mungkin agak membingungkan. Lingkungan baru, orang-orang baru membuatku harus banyak beradaptasi dan memanfaatkan apapun yang bisa dilakukan, walau sekedar menggunakan kamera dengan baik sebaik bentuk melatih diri untuk mandiri dan tidak terlalu bergantung pada orang lain.

P_20181005_152910.jpg #Harike2
#Tantangan10Hari
#GameLevel2
#KuliahBundaSayang
#MelatihKemandirian
#InstitutIbuProfesional

Advertisements

Tantangan Melatih Kemandirian Kelas Bunda Sayang IIP Level 2 : Menggunakan Kamera

Saat ini saya berada dalam situasi yang tak biasa saya hadapi dalam hidup, yaitu tinggal jauh dari orang tua. Situasi ini menuntut saya untuk mandiri dalam segala hal, apapun yang saya butuhkan harus saya upayakan sendiri karena orang lain pun sedang dalam posisi yang sama.

Sebenarnya kemandirian bukanlah tuntutan, tapi justru kebutuhan. Kemandirian adalah keadaan dimana seseorang mampu berdiri sendiri tanpa bergantung pada orang lain. Walau tak dapat dipungkiri setiap orang tentu perlu bantuan atau peran orang lain bagaimanapun keadaannya, setidaknya hal itu dapat diminimalisir.

In syaa Allah selama satu bulan kedepan saya akan mengupayakan empat kemandirian dengan rincian One Week One Skill. Bismillah..

Pekan ini saya ingin belajar mandiri menggunakan kamera SLR. Sederhana memang, tapi bagi saya pribadi ini berpengaruh dan menjadi prestasi tersendiri jika mampu menggunakannya. Selama kurang lebih satu bulan, kegiatan saya sangat menuntut untuk mandiri, tidak bergantung pada orang lain saat harus melakukan tindakan.

Mengapa pekan ini saya memilih belajar mandiri melalui hal ini karena sebelumnya ada rasa takut saat harus menggunakan kamera SLR. Padahal banyak moment bermanfaat, pekerjaan menarik yang menuntut hal ini. Tentu saja jika saya mandiri untuk melakukannya, akan banyak manfaat yang saya dapat.

Konsistensi-Motivasi-Teladan

Hal diatas menjadi kunci untuk mendukung saya belajar melatih diri untuk mandiri. Motivasi saya untuk belajar, konsistensinya dan sosok yang menjadi acuan untuk belajar menjadi hal penting yang harus selalu diperhatikan.

#Harike1
#Tantangan10Hari
#GameLevel2
#KuliahBundaSayang
#MelatihKemandirian
#InstitutIbuProfesional

Tantangan Komunikasi Produktif Kelas Bunda Sayang IIP Level 1 : Pamit

Hari ini adalah jadwal keberangkatanku. Sebelum berangkat aku mendatangi rumah tetanggaku yang biasa mengaji bersamaku setiap sore.

Saat tiba di rumahnya, yang pertama kali kutemui adalah ibunya. Ku jelaskan alasan keberangkatan dan permohonan maaf tidak bisa menemani anaknya mengaji lagi.

Saat aku pamit pulang, anak cantik yang biasa menemaniku mengatakan “sore kita ngaji lagi ya.” aku lupa menjelaskan padanya, hingga ia hampir menangis.

Ternyata ada salah satu kaidah komunikasi produktif yang lupa kulakukan, yaitu memilih waktu terbaik untuk menyampaikan informasi sehingga ia belum bisa menerimanya.

#hari13
#gamelevel1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

Tantangan Komunikasi Produktif Kelas Bunda Sayang IIP Level 1 : Bahasa Tubuh

Seperti yang kita tahu, ada beberapa hal yang mempengaruhi keberhasilan komunikasi. Secara ringkas hal tersebut dijelaskan dalam rumus 7-38-55 yang artinya 7% dipengaruhi suara, 38% oleh intonasi suara dan 55% yang berarti paling besar dipengaruhi oleh bahasa tubuh.

Tadi saat mengaji, anak shalihah ini lagi-lagi perlu dibujuk. Sudah beragam cara, sampai akhirnya aku memilih menceritakan tentang surga dan neraka.

Calisa tahu surga?”

dia mulai menatapku dan tertarik dengan hal yang akan aku sampaikan.

Surga itu enaaak sekali. Semua ada disana. Calisa mau apa ? susu ada, permen ada, tayo ada, semua ada.”

kemudian ia bertanya.

Kalau frozen ada ?”

Ada juga dong. Semua yang kita mau ada disana, Tapi buat masuk kesana ada syaratnya yaitu harus jadi orang baik. Orang yang suka menolong, rajin ibadahnya juga suka mengaji.”

Selanjutnya kutawarkan ia untuk mengaji, dan masih tak mempan.

Huhuhu..” aku pura-pura menangis.

Kenapa ?” tanyanya.

Teh Nisa takut masuk neraka, kalau ga mau ngaji. Nanti Allah ga akan ngasih apa yang teteh mau.”

Selanjutnya kuceritakan tentang neraka dan akhirnya Alhamdulillah ia mau mengaji.

Ternyata memang benar bahwa anak-anak sering kali lebih mengerti apa yang kita sampaikan bukan dari suara atau rentetan informasi yang diberikan, tetapi dari bahasa tubuh yang meyakinkan.

P_20180907_161618

#hari12
#gamelevel1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

Tantangan Komunikasi Produktif Kelas Bunda Sayang IIP Level 1 : Berangkat ke Lombok

Saya pernah atau mungkin sering bertanya-tanya apa kiranya pesan dan manfaat yang ingin Allah titipkan atas penciptaan saya di dunia. Tidak mungkin saya diciptakan begitu saja.

Kan semua yang Allah ciptakan itu di dunia ini untuk beribadah pada-Nya.”

Iya memang. Namun saya masih mencari apa kiranya hal dalam diri saya yang bisa bermanfaat bagi orang lain sekaligus bentuk ibadah pada-Nya.

Kemarin tiba-tiba direktur relawan nusantara mengirimkan DM melalui instagram. Rasanya beliau tidak terlalu mengenal saya, begitulah yang ada dalam pikiran. Kami juga tidak saling mengikuti di media sosial itu. Sebelum menjawab DM nya saya terus bertanya-tanya mengapa beliau menghubungi saya.

Singkat cerita, beliau menawarkan agar saya berangkat ke lombok. Bukan sebagai tenaga medis, seperti yang biasa saya lakukan. Tapi sebagai penulis.

Ya Allah… skenario apa ini ? Aku tak pernah membuat buku, menulis pun semampunya. Tak pernah berharap tanggapan orang, tapi tentu saja ingin berbagi manfaat.”

Pergi ke lombok sebenarnya sudah ditawarkan beberapa orang. Penawaran pertama saya tolak karena masih berjuang skripsi. Penawaran kedua ditolak juga karena keberangkatan pas dengan waktu sidang. Dan alasan yang paling besar karena orang tua tidak mengizinkan.

Maka komunikasi produktif itu mulai saya lakukan, pelan-pelan dengan harap-harap cemas. Sebelum semua dimulai saya sudah menanamkan “Kalau Engkau tahu di skenario ini ada kebaikan, tolong mudahkan. Karena hamba tak tahu-menahu dan Engkau yang Maha Tahu. Bila ada keburukan atau kerugian maka ikhlaskan perasaan hamba untuk menerima dan beri tanda jika hal ini tak layak hamba perjuangkan.”

MasyaAllah.. kutatap mata kedua orang tua, kudatangi mereka ketika mereka sedang tak sibuk, kusampaikan dengan bahasa yang baik dan mudah dimengerti, Alhamdulillah, ridho mereka untuk pergi ke lombok ku kantongi.

Buah dari komunikasi produktif membuat masing-masing dari kami merasa nyaman bahkan Ibu dan Bapak membantuku mempersiapkan keberangkatan in syaa Allah besok lusa.

Mohon do’a dari semuanya semoga amanah ini bisa dijalankan dengan baik. Semoga Allah terus menuntun untuk menjaga perasaan dari segala niat selain kepada-Nya.

#hari11
#gamelevel1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

Tantangan Komunikasi Produktif Kelas Bunda Sayang IIP Level 1 : Rasa Empati

Hari ini aku belajar mengenai rasa empati yang disampaikan melalui komunikasi produktif antara aku dan anak laki-laki ini. Sore ini kami baru saja selesai mengaji, namun anak perempuan yang biasa mengaji denganku bersemangat untuk pergi lebih dulu dan lupa membawa tas yang berisi buku dan alat tulismiliknya. Ia tinggalkan begitu saja tas itu, akhirnya ku bawa tas miliknya.

Tanpa ku sangka, anak laki-laki ini mengamatiku. Kutunjukkan ketertarikan dengan komunikasi verbal berupa posisi tubuh yang condong dan sejajar dengannya.

Tas nya Calisa sini teh, biar aku bawa.”

Loh dibawain ? kenapa ?” tanyaku, padahal dalam hati sudah berbunga-bunga bangga melihat sikapnya.

Dia nya pergi duluan, kasihan nanti nyari-nyari.” jawabnya.

Masya Allah, sholeh baiknya mau membawakan tas. Terima kasih ya.” Ucapku.

Aku berusaha memberi apresiasi dengan baik atas inisiatif dan rasa empatinya. Bagiku itu modal karakter yang baik karena jarang dimiliki anak-anak atau bahkan orang dewasa yang sering kali kurang memperhatikan kondisi orang lain.

#hari10
#gamelevel1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

Tantangan Komunikasi Produktif Kelas Bunda Sayang IIP Level 1 : Mengenalkan Allah dan Nabi-Nya

Dulu aku sering kali berpikir dan berkeinginan untuk menjadi seorang guru. Alasannya karena aku berharap dari sekian banyak orang yang ada di Bumi, Allah menitipkan ilmunya melalui lisan dan upayaku menyampaikan hal itu pada orang lain.

Sedikit cerita, saat masih kecil aku sering malas pergi mengaji. Tapi Ibu dan Bapak melakukan beragam cara agar aku mau pergi. Mungkin dulu aku sering main-main saat guru mengajar, tapi masyaAllah banyak hal yang aku ingat atas semua pelajaran yang beliau berikan. Semoga Allah merahmati dan membalas kebaikan mereka..

Masih terekam jelas bagaimana setiap ba’da dzuhur sampai ashar kami mengulang semua hafalan. Masih diingat sampai sekarang bagaimana salah satu guruku menggambarkan pentingnya sholat dengan angka 1 dan kebaikan dengan angka 0. Yaa, semua masih terekam jelas dan aku ingin anak-anak juga merasakan hal sama. Saat dewasa nanti mereka sempat terbersit “Oh iya dulu teh nisa pernah mengajarkan ini.”

Bukan, bukan sama sekali ingin diingat kebaikannya. Karena soal itu bagiku cukup Allah saja. Hanya terharu rasanya kalau sampai hal itu bisa terwujud :’) Itu cita-cita besar yang jarang kusampaikan pada orang lain. Maka karena itulah aku tetap bertahan untuk mengajar anak-anak mengaji. Setiap mengajarkan 1 huruf saja, aku berharap dapat meninggalkan kebaikan untuk anak tersebut.

Tak terasa curhat sepanjang ini..

Intinya hari ini aku bahagia. Sungguh bahagia. Alhamdulillah.. anak-anak yang kuajarkan sangat antusias, tak sesulit biasanya untuk diajak mengaji. Karena hari ini aku berusaha membawa mereka pada suasana tempat dan metode belajar yang baru, salah satunya setelah mengaji aku bercerita untuk mereka.

P_20180914_170702

Hari ini aku bercerita tentang nabi musa dan mukjizatnya. Tentu saja pada awalnya mereka tak acuh. Asyik berlari-lari dan tak mendengarkan ceritaku dengan serius. Tapi tiba-tiba mereka ingin duduk diatas tembok dan akhirnya ceritaku mereka dengarkan dengan baik. Huhu bahagia rasanya..

Saat kuulangi walau harus dibantu mereka bisa menjawab semua pertanyaan yang kuberikan.

Siapa nabi yang tadi diceritakan ?”

Siapa nama raja yang jahat itu ?”

Siapa yang membantu nabi musa melewati lautan dan tongkatnya berubah menjadi ular ?”

Allah.” jawab mereka bersemangat.

Mengenalkan Allah dan ciptaannya begitu menggetarkan hati. Semoga hal itu terus diingat dan tertanam dalam pikiran dan hati mereka. Hari ini aku belajar betapa pentingnya memperhatikan kaidah komunikasi produktif  dengan memilih waktu yang tepat, memperhatikan pemahaman anak-anak mengenai bahasa yang disampaikan, menyampaikan secara jelas dan mengulangi informasi yang diberikan sebagai bentuk konfirmasi kecocokan informasi.

Pelan-pelan, sedikit demi sedikit aku belajar banyak hal dari tantangan ini. MasyaAllah.. ternyata komunikasi yang produktif justru mendatangkan banyak manfaat dan kebaikan.

#hari9
#gamelevel1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

Tantangan Komunikasi Produktif Kelas Bunda Sayang IIP Level 1 : “Kasihan ya ?”

Tantangan level 1 ini kebanyakan di dominasi dengan anak-anak. Inilah moment berharga dan interaksi istimewa yang biasanya jarang kulakukan secara langsung karena jadwal kuliah atau organisasi yang mengharuskan pergi pagi dan pulang sore bahkan malam hari.

Hari ini aku berjalan-jalan sore dengan salah satu anak yang ada di sekitar rumahku. Kami (aku dan anak kecil ini) bersama ibu pergi mengunjungi kakek dan nenek yang tinggal di ujung jalan. Sebenarnya sudah jadi rutinitas ibu, jika ada waktu luang beliau selalu datang ke rumah ini “sekedar menjenguk” katanya.

Kakek dan nenek tak sesehat dulu. Mereka tinggal berdua karena qodarullah tidak memiliki anak. Usianya sudah sepuh sekali tapi mereka selalu ramah dan merasa senang bila ada yang datang ke rumahnya.

Aku dan ibu mengobrol dengan nenek, sedang anak itu duduk dan mengamati kami. Ketika kami sedang berjalan untuk pulang.

Kasihan ya nenek dan kakeknya.” dengan raut wajah sedih ia tiba-tiba mengatakan hal itu.

Kenapa kasihan ?” tanyaku.

Sudah tua mereka.” jawabnya.

Ternyata benarlah, bahwa anak kecil adalah observer ulung. Diam-diam mengamati, mendengarkan kemudian mencontoh.

Hari ini aku belajar dan mengalami salah satu kaidah dalam komunikasi produktif bersama anak-anak. Bahwa kita harus hati-hati dalam berkata dan berbuat karena mereka sebenarnya mengamati dan mendengarkan semua yang kita lakukan.

Akupun lagi-lagi belajar untuk menggali perasaan anak kecil. Diharapkan ketika ia terbiasa mengasah perasaannya, akan tumbuh rasa empati pada orang lain.

#hari8
#gamelevel1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

Tantangan Komunikasi Produktif Kelas Bunda Sayang IIP Level 1 : Menunjukkan Ketertarikan dan Perhatian

Mungkin sebagian dari kita menganggap bahwa anak kecil adalah sosok yang senang berimajinasi tanpa harus selalu diberi perhatian atas segala imajinasi yang mereka sampaikan.

Sore ini seperti biasa, adik manis tetanggaku sulit sekali dibujuk untuk mengaji. Kali ini dia ingin menggambar. Maka kuikuti saja maunya. Ia senang sekali menggambar “orang” sesuai imajinasinya.

Pertama bulat bulat dulu bikin kepalanya.”

Bikin badannya.”

Oh itu siapa ?” tanyaku.

Ini bapak-bapak ada matanya, hidungnya, mulutnya terus ada jenggotnya.”

Aku tertawa dalam hati. “Berarti anak ini sudah bisa membedakan dari mana perbedaan kontras antara laki-laki dan perempuan.”

Hari ini aku belajar bahwa berkomunikasi dengan anak-anak harus disertai dengan menunjukkan rasa ketertarikan dan perhatian pada hal yang ia lakukan. Harapannya ketika aku menyampaikan sesuatu yang berharga, ia akan melakukan hal yang sama menunjukkan ketertarikan dan perhatian.

Pada akhirnya akupun bersyukur. Bagaimanapun perjuangan yang harus dilalui, ia mau juga mengaji satu halaman. Bagiku ini adalah sebuah pencapaian berharga dalam berkomunikasi dengan anak-anak.

#hari7
#gamelevel1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑