Ramadhan #6 : Mendahulukan Prasangka

Seringkali kita berprasangka buruk pada takdir-Nya. Merasa jadi manusia yang tak pernah lebih beruntung dari orang lain. Merasa setiap rencana dan harapan selalu digagalkan atau tak pernah diberi kebahagiaan.”

Kamu pernah merasakan hal itu ?

Sudah berdo’a berkali-kali tapi harapan tak juga di penuhi..

Sampai diujung harapan kamu berkata “Maunya Allah apa sih ?”

Saudariku, sini ku peluk. Beristigfarlah, minta ampun pada-Nya atas segala prasangka burukmu.

Kamu hanya belum paham atas segala skenario-Nya, tunggulah sebentar lagi. Setelah ini mungkin kamu akan malu betapa sayang-Nya Allah padamu.

Dia tak memberikanmu kemenangan atas suatu pertandingan karena bisa jadi Allah ingin kamu kembali belajar dan ahli di bidang itu. Atau Allah ingin menjaga hatimu agar jauh dari rasa sombong dan mengagungkan usaha yang dilakukan.

Dia tak mengabulkan do’amu secara langsung, karena bisa jadi Allah ingin selalu dekat denganmu. Mendengarmu meminta dan bersemangat melakukan kebaikan untuk memburu ridho-Nya.

Dia tak mengizinkanmu lulus bulan ini, karena bisa jadi ada kesempatan besar yang disediakan dan itu ada ketika kamu lulus bulan depan.

Dita tak mengizinkanmu menikah tahun ini karena bisa jadi kamu belum siap atau ada seseorang yang lebih baik yang sedang Dia persiapkan.

Jangan pernah kehabisan alasan untuk berbaik sangka pada-Nya karena Dia lah yang Rahman dan Rahim. Mencintaimu tanpa batas, mengurusi setiap kebutuhanmu dan hanya Dia yang akan selalu ada dan menyediakan yang terbaik bagimu.

Advertisements

Ramadhan #4 : Menjadi Baskom Kosong

Setiap yang hidup disekelilingnya pasti bertebar ilmu juga hikmah. Orang-orang berlomba untuk memiliki ilmu. Sejak kecil orang tua sudah memasukan anaknya ke lembaga formal untuk mendapatkan pendidikan dengan alasan agar bisa berhitung, membaca dan berperilaku baik. Seiring bertambahnya usia dan tingkat pendidikan bisa jadi ilmunyapun juga bertambah. Namun tidak jarang kita temui beberapa orang yang justru merasa cukup bahkan sombong dengan ilmunya. Merasa paling bisa dan paling benar.

Aku selalu ingat penyampaian dari dosenku ketika ia mengajar mata kuliah Community Nursing Practice,

“Orang yang berilmu itu benar-benar memahami ilmu padi, semakin berisi ia justru semakin merunduk. Semakin hormat dan menghargai yang lain.”

Karena ilmu seperti air, ia hanya mau mengisi ruang kosong yang mau menerima. Jika kita sering mendengar “Jadilah gelas kosong”, maka aku memilih jadilah seperti baskom (baskom/bas·kom/ n tempat air pencuci tangan atau muka) yang memiliki permukaan yang lebih luas dan memiliki sifat seperti gelas.

Kita tak hanya perlu ruang kosong di pikiran untuk menerima ilmu, tapi juga hati yang luas dan bersedia untuk menerima saran dari orang lain. Pernah ada satu siswa yang sedang berada dalam kegiatan pendidikan dasar, kulihat ia begitu tak menyukai pendidikan ini. Ia selalu menyela apa yang panitia sampaikan, perintahnya tak mau ia ikuti padahal itu adalah ilmu baru yang perlu dipelajari. Maka ia tak mendapatkan ilmunya karena pikiran dan hatinya tak menyiapkan ruang kosong untuk menerima ilmu dan hikmah dari instruksi panitia.

Belajarlah menjadi baskom kosong yang bersedia menyerap semua ilmu dari siapapun yang menyampaikannya. Tak muncul perasaan “ah sudah tahu”, “masa dia pematerinya ? lebih ahli gue kali” karena menerima dan bersedia mendengarkan juga salah satu adab dalam menuntut ilmu.

Bila ada yang berbaik hati memberikan kritik dan saran, maka lapang dada lah untuk menerima hal itu sebagai dasar untuk menjadi pribadi lebih baik. Kesalahan kadang seperti kotoran mata yang tak terlihat oleh kita dan hanya bisa dilihat oleh orang lain.

Begitu juga hidup kita, belajarlah menjadi baskom kosong yang bersedia mengambil ilmu dan hikmah dari cobaan yang Allah berikan. Maka kita akan menjadi baskom yang istimewa, terisi terisi dan terus terisi sampai Allah mengatakan “Ayo hamba-Ku, kembali pulang.”

Selamat berproses menjadi baskom kosong..

Ramadhan #3 : Seperti Ninja (?)

Apa yang pertama kali terpikirkan saat melihat wanita yang memakai pakaian lebar berwarna hitam dan memakai cadar ?

Kayanya kalau mau nutup aurat ga gitu banget deh.”

Ribet ah, terlalu eksklusif. Orang jadi ga mau bergaul.”

Takut. Jangan-jangan dia teroris.”

Atau,

MasyaAllah, kaya putri yang ga sembarang orang bisa lihat.”

Luar biasa, wujud cinta yang mengharap hanya ridho dan “dilihat” Allah dibanding terlihat dihadapan manusia.”

Komentar-komentar diatas sepertinya pernah ada di kepalaku. Dulu aku pernah berpikir betapa ribetnya wanita jika harus memakai cadar. Ia juga tak bebas mengerjakan sesuatu atau pergi ke tempat umum. Makannya harus pelan-pelan, wudhunya harus benar-benar di tempat tersembunyi, ga bisa ikut naik gunung atau jelajah alam dan banyak lagi.

Apakah kamu juga berpikir demikian ?

Diluar dari hukum dalam penggunaan cadar, aku pribadi sekarang justru takjub pada mereka yang menggunakan cadar. Mereka itu istimewa karena untuk memutuskan hal itu tentu mereka perlu banyak berjuang memberi penjelasan pada keluarga juga masyarakat. Mereka berjuang membangun pemikiran bahwa cadar tidak menjadikan mereka tak bergaul dengan yang lain, sulit dimintai tolong bahkan hal-hal kecil seperti tak bisa diajak makan bersama atau jalan-jalan.

Mereka yang menggunakan cadar memilih untuk menyembunyikan kecantikan yang hari ini begitu banyak wanita ingin tunjukan. Kebanyakan wanita senang bila dibilang cantik, menarik atau disukai banyak orang tapi mereka tidak begitu. Mereka hanya perlu ridho Allah. Bukan pujian yang sering kali menenggelamkan pada penyakit hati yang berbahaya.

Walau terlihat berbeda mereka adalah saudara kita yang harus dilindungi dan diperlakukan dengan sama. Bukan hanya satu atau dua aku melihat wanita bercadar yang berprestasi, memberikan manfaat pada begitu banyak orang bahkan didekat mereka rasanya menentramkan. Bila beberapa orang melihat mereka seperti ninja, kurasa ada benarnya karena mereka memang istimewa, kuat dan berpotensi dibalik kain yang menutupinya.

Mari sama-sama belajar untuk mengenal sesuatu tidak hanya dari fisik yang telihat namun belum tentu kebenarannya. Apalagi berprasangka buruk bahwa mereka bagian dari jaringan teroris, karena ini dua hal yang harus dipisahkan antara usaha menutup aurat dengan kejahatan yang dilakukan sebagian orang.

Eh tapi bukan hanya itu, ada juga yang bercadar tapi bicaranya kemana aja atau suka pasang foto di sosial media. Gimana tuh ?

Kembali lagi, coba kenali mereka lebih dalam dengan alasan mengapa melakukan hal itu. Apa yang kita kira benar belum tentu benar jika ternyata alasan mereka juga memiliki dasar yang kuat. Mari do’akan dan ingatkan mereka yang masih belajar dalam memahami adab berbicara. Soal sosial media mereka pasti juga memiliki alasan atau sedang proses belajar.

Kadang kala yang berbahaya justru muncul dari diri kita yang sering merasa lebih baik dan paling benar.

 

Ramadhan #2 : Cita-Cita

Cita-cita,
Dua kata yang sering diperbincangkan sejak usia kita masih kecil. Setiap anak yang dilahirkan tentu dititipkan harapan terutama oleh kedua orangtua dan keluarganya. Sejak kecil orangtua mengenalkan banyak hal seperti profesi (presiden, insinyur, dokter, desainer, perawat, arsitek, dll), tokoh-tokoh keren dengan harapan anaknya bisa ikut meneladani mereka.

Bila berbicara tentang cita-cita, kamu waktu kecil menjawab apa ?
Mungkin jawaban yang muncul adalah profesi-profesi yang sering anak-anak temui ditambah harapan ibu juga ayah nya. Namun hidup semakin berkembang dan kita menemui banyak hal hingga cita-citapun ikut berubah.

Salah satu cita-cita yang menarik untuk dibicarakan adalah cita-cita yang dimiliki ustadz Adi Hidayat semasa kecil, beliau ingin menjadi sosok Habibie. Maka sejak kecil ia mengoleksi semua buku pak Habibie dan mengetahui seperti apa kehidupannya. Kini kita bisa lihat betapa luar biasanya beliau. Kalau kata Aa Gym,

“Jika pak Habibie mampu membuat pesawat yang dapat terbang dari satu bandara ke bandara lain. Maka Ustadz Adi membawa orang-orang menuju surga-Nya.”

Memang ustadz Adi kini tak sama dengan pak Habibie tapi kecerdasannya MasyaAllah, mampu membuat orang takjub dengan kekuatan hafalan Al-Qur’an dan pemahaman ilmunya. Dari ustadz Adi kita bisa belajar bagaimana cita-cita mampu menjadi energi yang menakjubkan. Sejak kecil tentu orangtua nya sudah menanamkan kebiasaan baik sehingga ustadz Adi kecil dapat mengenal pak Habibie dan meneladaninya,

Dengan usia yang tak muda lagi, mungkin kini kita tak lagi punya cita-cita selain mengikuti arus dan hanya berani memimpikan hal-hal kecil yang sekiranya mampu tercapai. Padahal kita punya Allah Yang Maha Besar sudah menjanjikan bahwa kita akan mendapatkan apa yang kita upayakan.

Bila kini kita bercita-cita menjadi penghafal Al-Qur’an namun rasanya sudah bosan memperjuangkannya. Maka coba luruskan kembali niatnya, ingat bahwa Allah menjanjikan ratusan kali lipat bagi yang membaca apalagi mengahafal beberapa kali. Teruslah berjuang karena akan selalu ada kesempatan bagi kita, sama seperti Umar bin Khattab yang berjuang menghafal hingga 20 tahun. Bila maut ternyata lebih dulu datang dan kita belum menuntaskan hafalan, semoga dihadapan Allah kita adalah orang yang didunia pernah mengupayakan cita-cita itu.

Pastikan cita-cita kita besar, karena begitulah hakikatnya. Selama hal itu terkoneksi dengan Allah dan kebaikan, maka perjuangkan! 

Ramadhan #1 : Menyalahkan

Kita pernah mengeluhkan turunnya hujan, namun tidak membawa payung.

Kita pernah kesal pada ayam yang membuang kotoran sembarangan di rumah kita, namun tidak menutup gerbang.

Kita pernah menyalahkan air laut, padahal kita membiarkan lubang membesar di kapal kita.

Itu hanya perumpamaan dari hal-hal yang ada diluar kendali kita namun sering kita salahkan. Kadang kala sulit untuk kita menerima kesalahan diri sendiri dan mudah melihat kesalahan diluar diri. Padahal bisa jadi kesalahan yang ada diluarpun muncul karena kita sendiri.

Mungkin kita pernah menyalahkan kemajuan teknologi misal dengan adanya media sosial begitu menguras waktu sehingga kita kecanduan dan mengabaikan kewajiban yang harus dikerjakan. Sejak bangun tidur hingga tidur lagi intensitas kita dengan gadget sangat mendominasi, hingga ibadah tertinggal dan tugas semakin menumpuk. Kita seolah tak punya kendali lagi untuk berhenti atau mengatur waktu penggunaan sehingga tak ada perubahan bahkan mengatakan “ya mau gimana lagi ? udah kecanduan. Gara-gara ada ins**gram nih.”

Sedangkan mereka yang hidup diperkotaan dan berjuang setiap waktu dengan kemacetan seringkali mengeluhkan mengapa jumlah kendaraan semakin banyak, mengapa pemerintah tidak melebarkan jalan, dan mengapa petugas keamanan tak mampu mengendalikan. Padahal coba dipikirkan kembali, bukankah ia juga menggunakan kendaraan yang sama dengan yang lain ?

Setiap orang punya hal-hal yang bisa disalahkan atas setiap hal yang terjadi dalam hidupnya. Saat skripsi tak kunjung selesai ia bisa menyalahkan dosen yang sulit ditemui, beban mata kuliah yang masih menumpuk atau lain sebagainya. Seorang ibu bisa menyalahkan industri per-film-an yang menyuguhkan film yang merusak moral anak-anak, menyalahkan guru disekolah dan menyalahkan yang lainnya.

Tapi…
Cobalah melihat diri sendiri lebih dulu.
Jangan sampai kita buta untuk melihat kesalahan diri sendiri karena tak berusaha membeli cermin, malah mengoleksi kaca pembesar untuk melihat detail kesalahan orang/pihak lain.
Hidup kita sepenuhnya ada dalam kendali kita sendiri. Sesungguhnya kitalah individu tak merdeka jika tak bisa mengendalikan diri sendiri. Mengikuti kesenangan yang sudah jelas melalaikan.

Inilah ramadhan pertama kita di tahun ini. Mulailah dengan mengevaluasi apa yang salah dalam diri kita sehingga di waktu kebelakang kita hidup begitu merugi. Jika ada sesuatu yang tidak baik-baik saja terjadi dalam hidup kita, mulailah dengan melihat diri kita sendiri. Kesalahan itu bukan untuk disalahkan tanpa berusaha untuk diperbaiki.

Semangat berproses ya.
Semangat menjalankan project terbaik di bulan ini!

“Di antara akhlak seorang mukmin adalah berbicara dengan baik, bila mendengarkan pembicaraan ia tekun, bila berjumpa orang ia menyambut dengan wajah ceria dan jika berjanji ia menepati.”

(H.R. Ad-Dailami)

Dalam suatu Hubungan

Tidak ada manusia yang bisa hidup sendiri. Sekalipun harta atau kebutuhan yang ia perlukan sudah dimiliki, ia tetap punya celah yang perlu diisi oleh orang lain. Oleh karena itu manusia perlu berhubungan dengan manusia yang lain. Berhubungan dengan manusia perlu ilmu. Kita tak bisa sembarangan memperlakukan orang lain sesuai keinginan sendiri tanpa memperhatikan beragam hal. Bila hal-hal yang perlu diperhatikan ternyata diabaikan maka akan timbul masalah dalam hubungan tersebut.

Menurutku ada beberapa hal yang menjadi dasar dan penguat suatu hubungan. Entah hubungan pertemanan, persahabatan, bisnis, pernikahan atau hubungan sosial yang lainnya. Pertama, setiap orang yang terlibat dalam hubungan itu memiliki prinsip berlomba dalam kebaikan. Misalnya hubungan persahabatan antara dua orang perempuan. Keduanya memiliki prinsip tersebut dengan keinginan untuk selalu memberikan bantuan terbaik, memberikan hadiah untuk membahagiakan sahabatannya, mengingatkan untuk beribadah dan sebagainya. Hal ini menimbulkan ikatan saling memberikan kebaikan sehingga kerugian akan berkurang dan timbul kepekaan diantara keduanya. Itulah salah satu hal yang menguatkan hubungan.

Kedua, hubungan itu diikat dengan prinsip untuk menyimpan kewajiban diatas hak yang berarti tidak ada yang menuntut agar selalu dibahagiakan, diutamakan dan terpenuhi segala inginnya. Setiap orang yang terlibat dalam hubungan ini mengedepankan kewajiban untuk lebih dulu menyapa, memberi pertolongan dan juga mendo’akan. Misalnya hubungan antara suami dan istri. Istri memiliki pemahaman yang baik mengenai kewajiban yang harus dikerjakannya tanpa sibuk menuntut hak ini dan itu pada suaminya. Hingga suaminyapun juga begitu, tanpa disadari untuk menunaikan kewajibannya ia sudah memenuhi hak istri.

Betapa indahnya jika masing-masing dari kita belajar memahami dan melaksanakan dua prinsip itu. Hubungan yang dibangun akan semakin baik hingga kebutuhan yang diharapkan namun tidak dijadikan alasan utama bisa terwujud. Dalam suatu hubungan tentu banyak ilmu yang harus dipelajari, tidak hanya dua prinsip tersebut.

Menurutmu apa lagi ya ?

Jatinangor, 8 Mei 2018

menatakata

 

#Skripsi : Berenang ke Hulu

Ul, hari ini ibu terakhir ada di kampus. Baru kembali pertengahan bulan.”

Ini pesan yang mengawali indahnya pagi ku hari ini. Otak ku berpikir keras apa yang harus dilakukan. Pertimbanganku tentu pada waktu dan izin etik yang belum ku urus.

Bagaimana ini ya Allah ?”

Maka hari ini adalah bagian perjuangan. Mulai kuhubungi semua dosen pembimbing untuk meminta bimbingan hari ini. Inilah salah satu pertolongan Allah, hari sebelumnya aku seperti diberi dorongan untuk menyelesaikan revisian bahkan rela tak tidur hingga pukul 02.00 pagi yang bukan kebiasaanku untuk tidur larut malam.

Selepas lab kritis selesai, aku berlari dan menghubungi pembimbing I untuk bimbingan. Tak ada balasan. Maka sambil menunggu aku urus persyaratan etik dan menghubungi dosen yang akan cuti. Maha Baiknya Allah, dosen pembimbing II memberi waktu hingga pukul 16.00 sore untuk menemui beliau dan mengurus etik.

Hari tadi entah berapa kali aku berlari dari fakultas ke luar universitas untuk mengeprint form etik dan proposal penelitian. Saat-saat itu justru aku malah bersyukur dengan didikan Ibu dan Bapak yang menamkan sejak kecil untuk mandiri dan melakukan segala hal dengan cepat termasuk saat berjalan atau makan.

Tantangan luar biasa harus mengisi 16 halaman yang tak bisa diisi dengan tulisan karangan alias asal-asalan sementara waktu tinggal beberapa jam. Kepalaku mulai pening, aku belum makan dan hampir putus asa untuk mengurus etik pada saat dosen sudah kembali dari cuti saja dengan waktu yang terbuang sia-sia.

Tapi masa aku nyerah padahal belum berusaha ? Ayo Ul usaha dulu, hasilnya biar gimana Allah.”

Maka selepas sholat aku berdo’a pada-Nya memasrahan segala usaha dan memohon untuk dimampukan. Maha besar Allah setengah jam sebelum pukul 16.00, semua berkas sudah siap tinggal diperiksa (dan berharap langsung di tanda tangan).

Sepanjang perjalanan menemui dosen, aku mengingat pesan Ibu untuk terus beristigfar dan memohon pertolongan Allah. Ku keluarkan handphone dan mengirim pesan lewat WA pada Ibu untuk memohon agar dido’akan sehingga diberi kelancaran.

Dan MasyaAllah. Maha Romantisnya Dia.

Hari ini berhasil dilalui dengan mendapat kedua tanda tangan dosen yang in syaa Allah dapat memudahkan proses pengajuan etik penelitian. Aku bersyukur Allah membimbingku dan menemani untuk berenang ke hulu. Melawan segala ketidakmungkinan, ketakutan dengan pertolongan-Nya yang luar biasa.

Alhamdulillah ya Allah,

Engkau yang terbaik.

Jatinangor, 3 Mei 2018

Perjalanan Seorang Perempuan

Sore tadi bersama beberapa teman, kami mengunjungi salah satu teman yang baru melahirkan. Temanku ini adalah salah satu saudari terbaik yang kutemui dan mulai dekat sejak Allah menakdirkan untuk berada dalam satu tempat di KKN. Kami satu kampus namun tak terlalu dekat sebelumnya sekedar teman satu organisasi dan tutor.

Ia menikah sejak semester tiga. Perempuan pertama yang menikah di angkatan kami. Tentu keputusan untuk menikah bukanlah perkara mudah. Ia pernah bercerita bagaimana perjuangannya untuk mendapatkan restu kedua orang tua sampai menyiapkan dana untuk menikah dan memastikan sumbernya dari harta yang halal. Ia menikah dengan laki-laki yang juga luar biasa menurutku, berani mengambil keputusan dan terkenal bertanggung jawab. Maka rasanya memang sangat tepat bila Allah menjodohkan mereka berdua.

Rumah tangga muda tentu penuh perjuangan. Saudariku ini pernah menceritakan bagaimana mereka berdua bertahan hidup hingga membuka usaha untuk menunjang kebutuhan mereka. Mulai dari jualan beberapa bungkus makanan hingga sekarang ribuan setiap harinya. Melihat mereka membuatku semangat yakin bahwa Allah Maha Baik. Allah dekat dengan mereka yang yakin sepenuh hati dan mau berusaha.

Singkat cerita setelah beberapa kali kandungannya harus keguguran, Allah menitipkan amanah itu hingga seminggu yang lalu bayi perempuan sholehah itu lahir. Kami yang datang sore tadi begitu terkesima betapa Allah menyayangi keluarga kecil ini. Jika kebanyakan perempuan akan menceritakan betapa sakit dan menyedihkannya proses melahirkan, perempuan ini justru menceritakan bahwa Allah amat memudahkan dan mengabulkan semua do’anya. Bayi perempuan itu lahir normal dibawah bimbingan bidan luar biasa, tanpa jahitan bahkan ia lahir bersih tanpa pecah ketuban atau darah. Ia memandang melahirkan ini jihad yang perlu dipersiapkan dengan cara terbaik.

Pesan yang kuingat dari ceritanya adalah terus berdoa pada Allah, sebanyak apapun yang kita inginkan bahkan sampaikan do’a itu secara detail. Yakin bahwa Allah akan mengabulkan dan Dia amat senang dimintai hambanya. MasyaAllah.. obrolan dengannya memang selalu tentang kebaikan, menentramkan hati dan memacu diri agar semakin lebih baik.

Aku tergetar dengan harapan perempuan ini. Ia meminta do’a pada kami semua agar putrinya menjadi perempuan sholehah dan penghafal Al-Qur’an. Ia dan suaminya berniat dan berusaha untuk mendidik dan menjaga putrinya di fase akhir zaman ini. Maka sejak bayi itu lahir ia tak mau mengabaikan segala pendidikan yang harus diberikan dan tak ingin ada fase yang ia lewati.

Ceritanya sungguh menginspirasi, proses hamil hingga melahirkan ia selalu melibatkan Allah. Allah membuka rezeki keluarga ini dan mengelilingi mereka dengan orang-orang baik. Ingin sekali aku seperti perempuan ini yang visi nya bukan tertumpu pada dunia yang akan membutakan, tapi pada Allah dan surga-Nya maka dunia tak pernah mengkhawatirkan hatinya.

Saat pamit, perempuan ini dan Ibunya menyampaikan do’a,

Segera menyusul ya teh, semoga Allah berikan dia yang sholeh.”

Aamiin, titip do’a nya ya semoga istiqomah mempersiapkan.”

Beruntung sekali Allah memberikan rezeki dan kesempatan untuk bertemu perempuan ini sore tadi. Semoga keluarga kecil ini dapat menjadi sebenar-benarnya keluarga yang mengabdi hanya pada-Nya.

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑